Kamis, 04 Juni 2020

MARI MENULIS TEKS NARASI (CERITA FANTASI)


        Kegiatan pembelajaran ketiga kali ini adalah menulis teks narasi (cerita fantasi). Akan tetapi, sebelum itu, Sila disimak video youtube di bawah ini sebagai penambah pengetahuan kalian mengenai langkah-langkah dalam menulis teks narasi (cerita fantasi). Setelah itu, perhatikanlah contoh teks narasi (cerita fantasi) di bawah ini!


Contoh Teks Narasi (Cerita Fantasi)


JAM AJAIB

 

            Besok adalah hari ulang tahunku yang ke-10. Hmm, tak sabar rasanya menunggu hadiah dari Ayah dan Ibu. Aku pernah bilang kalau aku ingin punya  piano.  Aku ingin belajar bermain piano. Asyiknya kalau aku bisa  punya sebuah piano! Aku juga pernah bilang  pada Ibu, kalau  aku ingin punya sepeda. Enaknya kalau bisa berangkat dan pulang sekolah naik sepeda bersama teman-teman. Jadi kira-kira Ayah dan Ibu akan memberiku piano atau sepeda, ya? Aku jadi penasaran.

            Tiba-tiba aku melihat bingkisan kecil di meja belajarku. Namaku tertera di atasnya. Hadiah dari siapa, ya? Dengan hati-hati kubuka bingkisan itu. Wow, sebuah jam meja kecil! Bagus sekali! Ada catatan kecil di dalamnya.

            Selamat Ulang Tahun!.Rea, aku hanya bisa memberimu jam mungil ini sebagai kado ulang tahun. Jam ini adalah jam ajaib.Putarlah tanggal, hari, dan jam tertentu. Lalu pence tombol on di belakang jam ini. Maka kamu bisa melihat di permukaan jam ini kejadian yang terjadi padamu di saat itu. Untuk menghentikannya, pencet tombol off. Tapi, hati-hati, ya. Jam ajaib ini hanya bisa digunakan tiga kali.

            Aneh, tak ada nama pemberinya. Wah, jangan- jangan ini hanya kerjaan saudaraku yang  iseng! Jam itu memang bagus. Warnanya biru muda, warna kesukaanku. Iseng, kuputar tanggal 10 November 2003, jam delapan pagi. Lalu kutekan tombol on. Ajaib! Tiba-tiba angka-angka di bagian depan jam itu menghilang dan berganti dengan gambar. oh, itu gambarku! Aku memakai seragam sekolah diantara teman-temanku. Ah, aku ingat! Waktu itu kami sedang upacara bendera memperingati Hari Pahlawan. karena bosan, tampak aku main tendang-tendangan dengan Dora yang berdiri di sampingku. Kutekan  tombol off. Gambarku menghilang  dan jam itu kembali terlihat seperti jam biasa. Jadi, jam itu benar-benar ajaib! Aku terpana  memandanginya. Ah, kini aku tak peduli siapa  yang memberikan jam ini padaku.

            Aku penasaran. Apa jam ini bisa kugunakan untuk melihat  masa depan? Akan jadi apa  aku lima belas tahun nanti?. Segera kuputar jam itu. Pelan-pelan terlihat gambarku yang sedang membaca koran. Hei, namaku tertera di koran itu! Wah, ternyata aku menulis cerita anak-anak yang berjudul Jam Ajaib. Astaga, aku bisa melihat masa depan.

            Aha! Aku ingin tahu juga, besok aku akan dapat kado apa saja, ya? Untuk ketiga kalinya kuputar jam ajaib itu. Aku bisa melihat gambarku yang sedang membuka sebuah bungkusan. Ternyata isinya sebuah boneka kodok yang lucu dari Kak Dea, kakakku. Aku juga bisa melihat kado dari teman-temanku. Kebanyakan alat-alat tulis. Eh, namun hadiah dari Ayah dan Ibu belum kelihatan. Kuputar jam itu  sehingga menunjukkan pukul 9 malam di hari ulang tahunku. Kini di permukaan jam tampak Ayah dan Kak Dea sedang menggotong sebuah kardus besar. Oh, tiba-tiba gambar pada jam itu menjadi kabur. Kuusap permukaannya lalu kuguncang-guncang. Namun  angka-angkanya malah muncul kembali, padahal aku belum menekan tombol off. Jam ajaib itu rusak! Astaga! Aku menepuk dahiku. Aku baru ingat kalau aku sudah tiga kali menggunakan jam itu! Oh, aku terlalu bersemangat, jadi kurang hati-hati Padahal tadi aku hampir tahu hadiah dari Ayah dan Ibu. Aduuuh, terpaksa aku harus sabar menunggu sampai besok.

            Keesokan paginya, “Selamat ulang tahun!” ciuman Kak Dea membangunkanku. Tapi hari itu aku tidak bersemangat membuka hadiah dari Kak Dea dan teman-temanku. Isinya sama persis dengan yang kulihat di jam ajaib kemarin. Jam itu memang benar-benar ajaib! Ayah dan Ibu juga memberi ciuman selamat ulang tahun padaku. Namun mereka belum memberi hadiah. Sampai malam tiba, aku menunggu dengan gelisah. Ah, jangan-jangan. Ayah dan Ibu memang tidak memberiku hadiah.

            “Rea....” Ibu mengguncang bahuku pelan. Oh, rupanya aku tertidur di depan televisi. Aku membuka mata dan melihat Ayah dan Kak Dea sedang menggotong sebuah kardus besar.“Hei, itu, kan, persis dengan yang kulihat dalam jam ajaib kemarin!” pekikku dalam hati. Wah, sebentar lagi aku akan tahu kelanjutan cerita yang terpotong kemarin. Aku jadi bersemangat kembali. “Bukalah,Rea!” perintah Ayah sambil tersenyum. Aku cepat-cepat menyobek kertas pembungkusnya dengan tidak sabar. Astagaaa! “Terima kasih, Ayah! Terima kasih, lbu!” teriakku, lalu memeluk dan mencium Ayah dan Ibu. “Komputer itu untuk kamu dan Kak Dea. Kalian harus menggunakannya bersama-sama, ya!” pesan Ayah. Aku mengangguk gembira. Sudah lama aku dan Kak Dea ingin punya komputer. Sekarang keinginan kami terwujud.

            Malamnya aku termenung di depan jam ajaibku. Sekarang jam itu tidak ajaib lagi. Ah, mungkin itu memang lebih baik. Bukankah lebih asyik jika kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari? Kita bisa menebak-nebak, merasa penasaran, dan terpekik kaget! Yang pasti, kita pun akan belajar untuk lebih bersabar. Ya, dan aku sekarang jadi penasaran lagi. Apa ya hadiah untukku tahun depan? Mungkin sebuah piano, sepeda, atau jam ajaib!


Pastinya kalian mengetahui teks narasi (cerita fantasi) di atas termasuk ke dalam jenis teks narasi (cerita fantasi) irisan/sebagian karena berisi fantasi tapi masih menggunakan nama-nama dalam kehidupan nyata, atau peristiwa yang biasa terjadi pada dunia nyata. 

Nah.. masih ingatkkan langkah-langkah menulis teks narasi (cerita fantasi)? Salah satu langkah menentukan ide menulis teks cerita dengan mengamati objek nyata lalu memberi imajinasi. Oleh karena itu, diharapkan kalian dapat membuat teks narasi (cerita fantasi) sesuai dengan gambar-gambar yang diberikan. Siswa dapat memilih salah-satu gambar dan menulis teks narasi (cerita fantasi) yang sesuai dengan struktur dan kebahasaan.  

Gambar 1


Gambar 2


Gambar 3


Gambar 4


Rabu, 03 Juni 2020

BERKENALAN DENGAN TEKS NARASI (CERITA FANTASI)

Sila disimak video youtube di bawah ini:

        Apakah kalian pernah menonton film Jumanji, Harry Potter and Prisoner of Azkaban, The Lord of The Rings? Atau kalian pernah menonton film dari Indonesia yaitu Gundala, Ambilkan Bulan Bu? Apakah kalian masih ingat potongan kisahnya? Kisah-kisah dalam film di atas merupakan teks narasi (cerita fantasi) yang difilmkan. Nah, kalian juga dapat menulis teks narasi (cerita fantasi) yang dapat dibaca orang lain bahkan terkenal di berbagai penjuru dunia. Bahkan ceritamu suatu saat dapat di filmkan. 

        Dalam kehidupan sehari-hari kalian tentu pernah berfantasi. Tentang hal apa saja? Agar fantasi kalian tidak hilang begitu saja, maka dalam pembelajaran ini akan membahas apa itu teks narasi (cerita fantasi) secara terperinci. Selain itu, kalian perlu mengetahui apa saja unsur-unsur teks narasi (cerita fantasi), dan jenis-jenisnya. Agar kalian mampu memahami teks narasi (cerita fantasi) lebih dalam lagi, pelajarilah materi teks narasi (cerita fantasi) di bawah ini.

A. Pengertian Teks Narasi (Cerita Fantasi)

        Narasi disebut juga penceritaan atau pengisahan. Teks Narasi adalah ragam wacana yang menceritakan proses kejadian suatu peristiwa.Sasarannya memberikan gambaran yang sejalas-jelasnya kepada pembaca mengenai fase, urutan, langkah atau rangkaian terjadinya sesuatu hal. (Saddhono, 2015:180). Selaras dengan pendapat lain mengatakan teks narasi merupakan bentuk tulisan yang bertujuan menceritakan rangkaian peristiwa atau pengalaman manusia berdasarkan perkembangan karangan dan tulisan yang bersifat menyejarah dari waktu ke waktu (Semi dalam Munirah,  2015:110). Jenis teks narasi ini mementingkan urutan kronologis suatu peristiwa, kejadian dan masalah yang sejalas-jelasnya kepada pembaca.

        Cerita fantasi ini termasuk dalam genre sastra yang dikategorikan ke dalam genre cerita atau genre naratif. Cerita fantasi termasuk cerita fiksi. Nurgiyantoro (2015:2) mengatakan bahwa cerita fiksi merupakan suatu karya yang menceritakan sesuatu yang bersifat rekaan, khayalan, sesuatu yang tidak ada dan terjadi sungguh-sungguh sehingga tidak diperlu dicari kebenarannya. Cerita fantasi adalah cerita yang dibuat berdasarkan produk imajinasi seseorang seakan ada dalam kehidupan sehari-hari tetapi kenyataannya hanya dalam mimpi (Cahyani,2012:278). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa teks narasi (cerita fantasi) merupakan cerita rekaan yang terbentuk dari imajinasi-imajinasi pengarang lalu disampaikan menurut urutan waktu agar mengambarkan proses kejadian sejelas-jelasnya.


B. Unsur-Unsur Teks Narasi (Cerita Fantasi)

1. Tema

      Dalam menulis sebuah teks narasi (cerita fantasi), kalian dapat memulainya dari tema. Stanton dalam Nurgiyantoro (2015:114) mengemukakan bahwa tema adalah makna yang dikandung oleh sebuah cerita. Pendapat lain mengatakan bahwa tema adalah ide yang mendasari suatu cerita. Tema dapat kalian temukan dengan berbagai cara. Salah satunya tema yang berasal dari pengalaman pribadi atau orang lain. Tema-tema dalam  teks narasi (cerita fantasi)  pada umumnya aneh, menakjubkan bahkan tidak masuk akal. 

2.  Alur

        Alur berkaitan dengan masalah urutan penyajian cerita. Alur merupakan rangakaian cerita yang dibentuk oleh tahapan-tahapan perisrtiwa sehingga menjalin sebuah cerita yang dihadirkan oleh pelaku dalam suatu cerita (Abrams dalam Wicaksono, 2008:159). Berbeda dengan pendapat Nurgiyantoro (2015:167) alur adalah cerita yang berisi urutan kejadian, namun tiap kejadiannya itu hanya dihubungkan secara sebab akibat, peristiwa satu disebabkan atau menyebabkan terjadinya peristiwa yang lain. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa  alur merupakan urutan peristiwa yang dihubungkan oleh sebab akibat.. Urutan peristiwa itu mencakup seperti, konflik yang terjadi, lalu sampai akhirnya mencapai klimaks, dan terakhir bagaimana  cerita tersebut diselesaikan. 

        Nurgiyantoro (2015: 153-156) mengemukakan bahwa terdapat jenis plot yang ditinjau dari segi penyusunan peristiwa atau bagian-bagian yang membentuknya, yaitu:

1) Alur progresif (lurus, maju atau juga bisa disebut kronologis) jika cerita diceritakan secara runtut mulai dari tahap awal-tengah-akhir.

2) Alur sorot balik atau flashback adalah plot yang urutan ceritanya tidak dimulai dari tahap awal, melainkan dari tahap tengah atau bahkan tahap akhir, baru kemudian tahap awal cerita.

3) Alur campuran. Plot campuran terjadi bila cerita yang urutan ceritanya progresif, tetapi di dalamnya terdapat adegan sorot balik.

3.  Tokoh Penokohan

       Tokoh adalah orang yang menjadi pelaku dalam cerita (Baldic dalam Nurgiyantoro, 2015:247).  Pendapat lain dari Aminudin dalam Siswanto (2008:142) menyatakan bahwa tokoh adalah pelaku yang mengemban peristiwa dalam cerita rekaan sehingga peristiwa itu menjalin suatu cerita. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tokoh adalah orang atau pelaku dalam cerita yang mengembang terjalinya suatu cerita. Tokoh adalah salah satu unsur yang penting dalam teks narasi (cerita fantasi).

       Sudjiman dalam Siswanto (2010) membagi tokoh menjadi tiga jenis, yakni:

  1. Tokoh utama (primer) adalah pelaku yang banyak mengalami peristiwa dalam cerita.
  2. Tokoh  bawahan (sekunder) adalah pelaku yang mendukung atau membantu tokoh utama. 
  3. Tokoh tambahan (komplementer) adalah pelaku yang kemunculan dalam cerita relatif sedikit dan hanya sebagai pelengkap tokoh utama.

    Kosasih (2012:36) berpendapat bahwa penokohan merupakan cara pengarang menggambarkan dan mengembangkan karakter tokoh-tokoh dalam cerita. Penokohan adalah sifat yang dilekatkan pada diri tokoh, penggambaran atau pelukisan mengenai tokoh cerita, baik lahirnya maupun batinnya oleh seorang pengarang (Wicaksono, 2014:175). Dengan demikian dapat disimpulkan penokohan adalah penggambaran dengan jelas tentang karakter tokoh atau seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita. watak yang dimiliki tokoh terbagi menjadi tiga macam, yaitu: 1) tokoh protagonis (tokoh utama; tokoh baik), 2) tokoh antagonis (musuh tokoh protagonis; tokoh jahat) 3) tokoh tritagonis (pihak ketiga; tokoh pelerai).

4.  Latar

         Latar atau setting merupakan tempat atau waktu berlangsungnya kejadian dalam cerita (Kosasih, 2012:38). Latar dalam teks narasi (cerita fantasi) berfungsi untuk membentuk daya imajinasi dan menciptakan suasana tertentu yang seolah-olah sungguh-sungguh ada dan terjadi. Hal tersebut dapat terjadi jika latar dapat menyajikan suasana setempat, warna lokal, lengkap dengan karakteristik yang khas ke dalam cerita.

       Kosasih (2012) membedakan unsur latar menjadi tiga yaitu:

  1. Latar tempat: mengacu pada tempat berlangsungnya peristiwa-peristiwa di dalam sebuah cerita. 
  2. Latar waktu: mengacu pada waktu berlangsungnya peristiwa-peristiwa di dalam sebuah  cerita. Latar waktu yang digunakan biasanya pagi hari, siang hari, malam hari, dan waktu-waktu tertentu. 
  3. Latar sosial: mengacu pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku sosial di suatu daerah yang diceritakan dalam sebuah cerita seperti kebiasaan hidup, adat istiadat, keyakinan, cara berpikir dan besikap, dan lain-lain. 

5.  Sudut Pandang

  Sudut pandang dapat diartikan sebagai cara sebuah cerita dikisahkan. Penggambaran sudut pandang secara tidak langsung berpengaruh pada penyajian cerita, oleh karena itu sudut pandang disebut juga pusat pengisahan. Semi dalam Sri Suhita dan Rahmah Purwahida (2018: 36) menjelaskan bahwa terdapat empat jenis pusat pengisahan, yaitu:

  1. Pengarang sebagai tokoh cerita. 
  2. Pengarang sebagai tokoh sampingan. 
  3. Pengarang sebagai pengamat atau orang ketiga. 
  4. Pengarang sebagi pemain narator.

6. Amanat

        Amanat merupakan pesan yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca. Pesan tersebut dapat berupa nilai-nilai luhur yang dapat dijadikan teladan dalam kehidupan. Amanat erat hubungan dengan tema. Bentuk penyampaian amanat dalam sebuat cerita ada dua, yakni tersurat (langsung) dan tersirat (tidak langsung).  


C. Ciri Umum Teks Narasi (Cerita Fantasi)


1. Ada keajaiban/ keanehan/ kemisteriusan

        Cerita mengungkapkan hal-hal supranatural/ kemisteriusan, keghaiban yang tidak ditemui dalam dunia nyata. Cerita fantasi adalah cerita fiksi bergenre fantasi (dunia imajinatif yang diciptakan penulis). Pada cerita fantasi hal yang tidak mungkin dijadikan biasa. Tokoh dan latar diciptakan penulis tidak ada di dunia nyata atau modifikasi dunia nyata. Tema fantasi adalah magic, supernatural atau  futuristik. Magic dalam teks narasi  (cerita fantasi) yaitu penulis menggambarkan tokoh memiliki kemampuan yang diluar manusia. Sementara futuristik, bersifat atau berhubungan dengan masa depan.

2. Ide cerita terbuka

        Ide cerita terbuka terhadap daya hayal penulis, tidak dibatasi oleh realitas atau kehidupan nyata. Ide juga dapat berupa gabungan dari dunia nyata dan dunia khayalan yang diciptakan oleh pengarang. Ide cerita terkadang bersifat sederhana tapi mampu menitipkan pesan yang menarik.Tema cerita fantasi adalah magic, supernatural atau  futuristik. Contoh, pertempuran komodo dengan siluman serigala untuk mempertahankan tanah leluhurnya, petualangan di balik pohon kenari yang melemparkan tokoh ke zaman Belanda, zaman Jepang, kegelapan karena tumbukan meteor, kehidupan saling cuek dalam dunia teknologi canggih pada 100 tahun mendatang.

3. Latar lintas waktu dan ruang

            Peristiwa  yang dialami tokoh  terjadi pada dua latar yaitu   latar yang masih ada dalam kehidupan sehari-hari dan latar yang  tidak tidak ada pada kehidupan sehari-hari.  Alur dan latar cerita fantasi memiliki kekhasan. Rangkaian peristiwa cerita fantasi  menggunakan berbagai latar yang menerobos dimensi ruang dan waktu. Misalnya, tokoh Nono bisa mengalami kejadian  pada beberapa latar (latar waktu liburan di Wligi, latar zaman Belanda, dan sebagainya). Jalinan peristiwa pada cerita fantasi berpindah-pindah dari berbagai latar yang melintasi ruang dan waktu.

4. Tokoh unik

           Tokoh dalam teks narasi cerita fantasi memiliki watak dan ciri yang unik yang tidak ada dalam kehidupan sehari-hari. Tokoh memiliki kesaktian tertentu. Tokoh mengalami peristiwa misterius yang tidak terjadi pada kehidupan sehari-hari. Tokoh mengalami kejadian dalam berbagai  latar waktu. Tokoh dapat ada pada latar waktu dan tempat yang berbeda zaman (bisa waktu lampau atau waktu yang akan datang/ futuristik).             

5. Besifat fiktif

           Teks narasi cerita fantasi bersifat fiktif (bukan kejadian nyata). Cerita fantasi bisa diilhami oleh latar nyata atau objek nyata dalam kehidupan tetapi diberi fantasi. Misalnya, latar cerita dan objek cerita Ugi Agustono diilhami hasil observasi penulis terhadap komodo dan Pulau Komodo. Tokoh dan latar difantasikan dari hasil observasi objek dan tempat nyata. Demikian juga Djoko Lelono memberi fantasi pada  fakta kota Wlingi (Blitar), zaman  Belanda, Gunung Kelud.

6. Bahasa 

    Bahasa yang digunakan dalam teks narasi cerita fantasi bervariasi, ekspresif, dan menggunakan ragam percakapan (bukan bahasa formal).


D. Jenis-Jenis Teks Narasi (Cerita Fantasi)



        Jenis cerita fantasi berdasarkan kesesuaiannya dalam kehidupan nyata ada dua kategori  fantasi total dan fantasi sebagian (irisan).

1. Fantasi Total

        Kategori cerita fantasi total berisi fantasi pengarang terhadap objek/ tertentu. Pada cerita kategori ini semua yang terdapat pada cerita  semua tidak terjadi dalam dunia nyata. Misalnya, cerita fantasi  Nagata itu total fantasi penulis. Jadi nama orang, nama objek, nama kota benar-benar rekaan pengarang

2. Fantasi Sebagian (irisan)

        Cerita fantasi irisan yaitu cerita fantasi yang mengungkapkan fantasi tetapi masih menggunakan nama-nama dalam kehidupan nyata, menggunakan nama tempat yang ada dalam dunia nyata, atau peristiwa pernah terjadi pada dunia nyata.




Selasa, 02 Juni 2020

KUIS


 
       Agar pemahaman tentang materi teks narasi (cerita fantasi) menjadi lebih baik, kalian dapat berlatih mengerjakan kuis yang berisi soal-soal latihan terkait materi pembelajaran teks narasi (cerita fantasi). Dengan mengerjakan soal latihan ini kalian dapat mengetahui tingkat pemahaman kalian sehingga kedepannya, kalian dapat membuat teks narasi (cerita fantasi) dengan baik dan benar. Selamat mengerjakan!

Senin, 01 Juni 2020

MENELAAH STRUKTUR DAN KEBAHASAAN TEKS NARASI (CERITA FANTASI)


Setelah kalian mengetahui dan memahami pengertian teks narasi (cerita fantasi), unsur-unsur teks narasi (cerita fantasi), ciri-ciri umum teks narasi (cerita fantasi) dan jenis-jenisnya, kalian diharapkan dapat mengerti tentang struktur dan kebahasaan dalam teks narasi (cerita fantasi). Materi ini sangat penting untuk kalian agar dapat membuat teks narasi (cerita fantasi) yang baik dan benar sesuai dengan struktur dan kebahasaan yang berlaku.

 A. Struktur Teks Narasi (Cerita Fantasi)

        Struktur teks narasi (cerita fantasi) terbagi menjadi tiga bagian. Struktur tersebut dimulai dari orientasi, komplikasi, dan resolusi. 




1.  Orientasi 

    Orientasi sering disebut dengan pengenalan. Pengenalan yang berfungsi untuk mengantarkan awalan sebuah cerita sebelum ke tahap komplikasi. Pada sruktur orientasi, pengarang memperkenalkan tokoh, watak tokoh, dan latar secara umum. Dalam bagian ini mulai disebutkan nama-nama tokoh. Biasanya adalah tokoh utama dalam teks narasi (cerita fantasi). Selain itu, disebutkan pula kapan cerita itu terjadi dan dimana cerita itu terjadi. Untuk lebih jelasnya, berikut contoh  orientasi dalam teks narasi (cerita fantasi) “Legenda Dewi Bulan”.

            Bulan Jelita adalah anak dari sepasang petani miskin yang tinggal di pedesaan. Karena sangat miskin, tidak ada yang peduli dengan keluarganya. Bulan jelita memiliki penyakit kulit yang aneh di wajahnya sehingga menyebabkan kulitnya menghitam dan kusam. Jika tidak mengenalnya sebelumnya, orang-orang akan mengira ia adalah monster atau jelmaan hewan yang sangat buruk rupa.                                  Masyakat di desa itu sangat takut terhadap Bulan jelita dan karena selain wajahnya yang seram juga takut tertular penyakit Bulan Jelita. Warga desa selalu mencibir dan mencemooh Bulan karena wajahnya yang tampak menyeramkan. Untuk menutupi wajahnya, ketika hendak keluar rumah, Bulan Jelita selalu menutup wajahnya agar penduduk desa tidak jijik ketika berpapasan dengannya.

Dikutip dari: https://thegorbalsla.com/contoh-cerita-fantasi/

2. Komplikasi

        Komplikasi terdapat pada bagian tengah teks narasi (cerita fantasi). Pada struktur komplikasi berisi rangkaian kejadian atau peristiwa, setiap peristiwa tersebut dihubungkan secara sebab akibat. Peristiwa yang satu disebabkan oleh peristiwa yang lain. Pada bagian inilah tokoh utama mengalami gangguan. Gangguan tersebut dapat berupa konflik-konflik yang dialami tokoh. Berbagai konflik ini pada akhirnya mengarah pada klimaks atau inti cerita, yaitu puncak dari sebuah cerita dan berkaitan dengan bagaimana konflik tersebut diselesaikan dalam sebuah cerita. Untuk lebih jelasnya, berikut contoh  komplikasi dalam teks narasi (cerita fantasi) “Legenda Dewi Bulan”.

        Di suatu malam, Bulan Jelita bermimpi bertemu dengan seorang pangeran tampan dan sangat ramah. Setelah mimpi tersebut, Bulan Jelita selalu memikirkan wajah tampan dan tingkah laku pangeran sehingga Bulan Jelita sangat mengharapkan kehadiran pangeran tersebut di dunia nyata. Keinginannya yang kuat itu membuat Bulan Jelita selalu memimpikan pangeran setiap malamnya.                                             Suatu hari, bulan Jelita menceritakan mimpinya kepada sang ibu dan mengungkapkan keinginannya untuk bertemu dengan sang pangeran tampan. Sang ibu yang merasa anaknya tidak pantas untuk bertemu pangeran lantas berujar “Sudahlah Bulan anakku, kau tidak pantas bertemu pangeran. Lupakan saja mimpimu itu. Itu tidak akan menjadi kenyataan dan jangan pernah bercerita kepada tetangga”.“Ibu sungguh tidak ingin menyakiti perasaanmu anakku, ibu hanya tidak ingin anak gadis ibu satu-satunya kecewa dan menjadi bahan olok-olokan tetangga” lanjut sang ibu sembari mengusap kepala Bulan. Bulan pun sebenarnya menyadari bahwa mimpi tersebut terlalu mustahil dan terlalu tinggi untuk bisa terwujud apalagi melihat raut wajah Bulan Jelita, tentu saja pangeran akan takut melihatnya.                                              Malam berikutnya, Bulan Jelita termenung dan melamun menghadap langit yang ditaburi bintang berkilau yang mengelilingi bulan sebagai sumber cahaya keemasan yang sangat indah dan mempesona. “Sungguh pemandangan yang sangat cantik, andai saja aku secantik bulan”, gumam Bulan Jelita. Seketika saja Bulan Jelita teringat akan Dewi Bulan, yaitu Dewi yang menghuni bulan. Konon katanya Dewi Bulan adalah Dewi yang memiliki paras cantik dan rupawan. Kecantikannya lah yang membuat bulan terus bersinar. Setiap orang tua mengharapkan anak perempuannya memiliki kecantikan dan keanggunan seperti Dewi Bulan. Tidak terkecuali dengan orang tua Bulan Jelita sehingga ketika Bulan Jelita lahir, orang tuanya memberi nama yang sama dengan Dewi Bulan.                                                                                                 Selain cantik, Dewi Bulan merupakan Dewi yang sangat cantik, baik dan penyayang. Dia seringkali turun dan berkunjung ke bumi untuk membantu manusia yang sedang mendapat masalah dan mengalami kesulitan hidup. Bulan Jelita sangat ingin bertemu dengan Dewi Bulan dan meminta agar wajahnya dapat secantik wajah Dewi Bulan atau wajahnya bisa cantik kembali seperti dahulu. Bulan Jelita kemudian menyadari bahwa Dewi Bulan hanyalah sebuah cerita dongeng yang sering diceritakan orang tua kepada anak perempuannya dan mengharapkan anak perempuannya kan secantik wajah Dewi Bulan kelak. Dengan perasaan bersedih, Bulan Jelita kemudian mengubur harapannya untuk bertemu Dewi Bulan, apalagi memiliki wajah cantik seperti wajah Dewi Bulan.                                                                       Sebenarnya, Bulan Jelita adalah gadis desa yang memiliki hati lembut, penyabar, baik hati, dan senang membantu orang lain. akan tetapi, warga desa tidak ingin pekerjaannya dibantu Bulan Jelita karena takut tertular penyakit yang di derita Bulan Jelita. Di suatu sore, Bulan Jelita diminta oleh ibunya untuk menjenguk nenek tua yang merupakan salah satu tetangganya di desa tersebut.                                                    Setelah menjenguk dan mengantar makanan sembari membantu dan merawat nenek tua, tak terasa hari semakin gelap dan sudah larut malam. Ketika hendak pulang, Bulan Jelita sangat kebingungan karena di luar sangat gelap dan tidak ada obor penerangan. Beberapa saat kemudian ribuan kunang-kunang muncul entah dari mana dan memancarkan cahaya terang yang bersinar di sekitar Bulan Jelita. Kunang-kunang tersebut seolah menuntun dan menerangi Bulan Jelita untuk pulang. Setelah berjalan cukup jauh, akan tetapi rumah yang dituju tidak kunjung sampai. “Sepertinya ini bukan arah menuju rumahku?” gumam Bulan Jelita. Ribuan kunang-kunang tersebut ternyata menuntun Bulan Jelita masuk ke dalam hutan yang sangat lebat dan gelap gulita.                                                                                                                                 Bulan Jelita yang tampak panik kemudian mulai mencemaskan keadaan. “Jangan cemas Bulan Jelita, kami tidak akan menyakitimu, kami menuntunmu kesini karena kami akan membantumu menyembuhkan penyakitmu dan mengembalikan wajahmu seperti sedia kala” ujar salah satu kunang-kunang. Dengan perasaan cemas dan kini bercampur heran, lantas Bulan Jelita bertanya kepada kunang-kunang. “Siapa kau kalian ini yang akan membuat wajah ku kembali cantik?”. “Kami adalah utusan Dewi Bulan. Kami diminta untuk membawamu kesini karena kau gadis baik hati”. Bulan Jelita kemudian menunggu di tepi danau di tengah hutan dengan perasaan tidak keruan, khawatir, takut, dan heran. Kunang-kunang yang tadinya menjadi penerang Bulan Jelita satu demi satu terbang ke langit dan menghilang. Keadaan sekitar kembali menjadi gelap gulita sehingga tidak satupun benda dapat dilihat oleh Bulan Jelita.                                                                                                               Beberapa saat kemudian secercah cahaya bulan berwarna keemasan turun dari langit. Cahaya bulan terpantul ke permukaan danau. Bayangan bulan pada danau tersebut kemudian perlahan berubah menjadi sesosok wanita dengan paras cantik dan anggun mengenakan jubah berwarna emas. Dengan perasaan cemas dan takut, Bulan Jelita bertanya “ Si.. siapakah engkau wahai wanita cantik?”. “Aku adalah Dewi Bulan yang akan membantumu menyembuhkan penyakit yang menutupi kecantikan wajahmu”, jawab Dewi Bulan. Mendengar jawaban Dewi Bulan, Bulan Jelita kemudian merasa sangat senang luar biasa karena akhirnya bisa bertemu dan meminta Dewi Bulan membantunya.                                                                                         “Kau adalah gadis yang baik dan penyabar Bulan Jelita, kau telah mendapatkan dan melewati banyak sekali ujian hidup dan aku mampu melewatinya tanpa putus asa dan tetap bersemangat. Bahkan kau tidak pernah membalas kejahatan orang lain kepadamu. Aku akan membantumu mengembalikan wajah cantikmu sebagai imbalan karena selama ini kau selalu bersabar” terang Dewi Bulan. Dewi Bulan kemudian memberikan Bulan Jelita air suci yang mampu mengembalikan wajah cantik Bulan Jelita. Bulan Jelita kemudian menerima air di dalam sebuah kendi kecil yang diberikan Dewi Bulan. “Basuhlah wajahmu dengan air ini maka wajahmu akan kembali cantik” perintah Dewi Bulan. Perlahan, tubuh Dewi Bulan kemudian menghilang dalam bayangan pantulan cahaya bulan diatas danau.          

Dikutip dari: https://thegorbalsla.com/contoh-cerita-fantasi/

3. Resolusi

        Struktur resolusi merupakan bagian penutup cerita yang berisi tahapan penyelesaian masalah. Bagian ini merupakan tahap penyelesaian atas masalah yang dialami oleh tokoh utama.  Resolusi biasanya dapat ditutup dengan akhir yang menyenangkan, berakhir tragis dan menyedihkan. Untuk lebih jelasnya, berikut contoh resolusi dalam teks narasi (cerita fantasi) “Legenda Dewi Bulan”.

        Bulan Jelita kemudian segera membasuh wajahnya dan seketika ia tidak sadarkan diri. Setelah sadar, ia mendapati dirinya terbaring di atas ranjang di dalam kamarnya. Betapa terkejutnya Bulan jelita ketika menyaksikan wajahnya di depan termin sampai ia tidak menyadari bahwa yang berada di depan cermin adalah dirinya. Wajahnya cantik, lembut, dan bersinar bagai cahaya bulan.                                      Sang ibu yang melihat wajah Bulan Jelita lantas terkejut dan tidak percaya bahwa yang berada di hadapannya adalah putrinya. Kini, Bulan Jelita menjadi gadis paling cantik di desanya. Semua orang mengagumi kecantikan Bulan Jelita hingga akhirnya pangeran yang ada dalam mimpi Bulan Jelita mendengar kabar bahwa ada seorang gadis desa yang memiliki wajah jelita dan baik hati.                                                 Pangeran kemudian mendatangi Bulan Jelita karena ingin mengetahui lebih dalam tentang gadis itu. Karena kecantikan dan kebaikan Bulan Jelita, akhirnya pangeran jatuh cinta dan memilih untuk menikahi Bulan Jelita. Pangeran dan Bulan Jelita hidup bahagia bersama dan melahirkan putra putri yang cantik dan tampan. Meski demikian, Bulan Jelita tetap rendah hati dan tidak berbangga diri.
    Dikutip dari: https://thegorbalsla.com/contoh-cerita-fantasi/

B. Unsur Kebahasaan Teks Narasi (Cerita Fantasi)

        Selain struktur teks narasi (cerita fantasi) yang sudah kalian pahami, sekarang kalian harus mengenal unsur kebahasaan dalam teks narasi (cerita fantasi). Fungsi unsur kebahasaan dalam setiap struktur teks yaitu untuk mengekspresikan pikiran yang hendak disampaikan oleh pengarang ke dalam cerita yang ditulis. unsur kebahasaan dalam teks narasi (cerita fantasi) meliputi konjungsi (kata penghubung), kata ganti, kalimat langsung dan tidak langsung.

1.  Konjungsi

       Konjungsi atau disebut juga dengan kata penghubung. Kata penghubung merupakan kata-kata yang digunakan untuk menghubungkan kata dengan kata, klausa dengan klausa, atau kalimat dengan kalimat (Chaer, 2011:140). Dengan menggunakan konjungsi ini, hubungan itu menjadi eksplisit dan menjadi lebih jelas dibandingkan dengan tanpa adanya konjungsi. Dalam teks narasi (cerita fantasi) seringkali menggunakan konjungsi waktu.   

         Muslich (2010) membedakan konjungsi waktu menjadi empat macam, yaitu:

  1. Hubungan waktu permulaan: subordinator dalam hubunngan ini yang dipakai, yakni sejak, semenjak, dan sedari.
  2. Hubungan waktu bersamaan : subordinator dalam hubunngan ini yang dipakai, yakni sewaktu-waktu, tatkala, seraya, serta, selagi, sementara, selama, sambil , dan ketika.
  3. Hubungan waktu berurutan: subordinator dalam hubunngan ini yang dipakai, yakni sebelum, setelah, sesudah, seusai, begitu, dan sehabis.
  4. Hubungan waktu batas akhir: subordinator dalam hubunngan ini yang dipakai, yakni hingga dan sampai.

        Dari keempat macam konjungsi waktu diatas, konjungsi waktu yang paling sering digunakan dalam menulis teks narasi (cerita fantasi) yakni kemudian, tiba-tiba, sementara itu, lalu, selanjutnya, dan  akhirnya.

2. Kata Ganti

       Kata ganti adalah kata yang digunakan dalam sebuah klausa atau kalimat untuk mengantikan kata benda (nama benda) (Effendi, 2015:89). Penggunaan kata ganti dalam teks cerita narasi (cerita fantasi) biasanya unntuk merujuk pada kata ganti orang dan benda.

       Pertama, Kata ganti yang menunjukan nama benda disebut kata ganti petunjuk (pronomina demonstrif), seperti ini dan itu. Kedua, kata ganti yang digunakan untuk menggantikan nama orang disebut kata ganti orang (pronomina persona). Kata ganti orang di kelompokan ke dalam tiga jenis. Tiga jenis pronomina persona meliputi kata ganti orang pertama, kata ganti orang kedua dan kata ganti ketiga. Masing-masing jenis kata ganti orang dikelompokkan lagi ke dalam dua kelompok, yaitu jamak dan tunggal. Untuk lebih jelasnya, perhatiakan tabel berikut:  



3.        Kalimat langsung dan tidak langsung

       kalimat langsung adalah kalimat yang memberitahukan bagaimana ucapan yang dikatakan oleh orang ketiga seperti apa adanya (Wiyanto, 2005:64). Kalimat kutipan tersebut berupa kalimat tanya, kalimat berita, atau pun kalimat perintah. Dalam sebuah cerita biasanya kalimat langsung diucapkan oleh seorang tokoh. Agar mempermudah kalian dalam memahami kalimat langsung, berikut disajikan contoh kalimat langsung dari cerita fantasi teks narasi (cerita fantasi) “Legenda Dewi Bulan”.

  1. “Ibu sungguh tidak ingin menyakiti perasaanmu anakku, ibu hanya tidak ingin anak gadis ibu satu- satunya kecewa dan menjadi bahan olok-olokan tetangga” lanjut sang ibu sembari mengusap   kepala Bulan.
  2. "sungguh pemandangaan yang sangat cantik, andai saja aku secantik bulan", gumam Bulan Jelita.

        kalimat tidak langsung adalah kalimat yang menyampaikan isi atau maksud yang dikatakan oleh orang ketiga. Jadi, tidak menirukan langsung seperti adanya (Wiyanto, 2005:65). Dalam kalimat tidak langsung semuanya berbentuk kalimat berita. Kata ganti orang kesatu dan kedua dalam kalimat langsung berubah menjadi kata ganti orang ketiga dalam kalimat tidak langsung. Agar mempermudah kalian dalam memahami kalimat tidak langsung, berikut disajikan contoh kalimat tidka langsung dari teks narasi (cerita fantasi) “Legenda Dewi Bulan”. 

  1. Suatu hari, bulan Jelita menceritakan mimpinya kepada sang ibu dan mengungkapkan keinginannya untuk bertemu dengan sang pangeran tampan. 
  2. Bulan Jelita sangat ingin bertemu dengan Dewi Bulan dan meminta agar wajahnya dapat secantik wajah Dewi Bulan atau wajahnya bisa cantik kembali seperti dahulu.

       Apakah kalian sudah bisa membuat kalimat langsung dan tidak langsung?  jika belum, perhatikan tabel perbedaan kalimat langsung dan tidak langsung dibawah ini.


      Setelah kalian mempelajari materi tentang struktur dan unsur kebahasaan di atas. Tahukah kalian sekarang apa saja struktur dan kebahasaan teks narasi (cerita fantasi)? Nah, untuk menguji pemahaman kalian, kerjakan latihan berikut.  

Catatlah struktur dan kebahasaan apa saja yang kalian temui dalam teks narasi (cerita fantasi) yang berjudul "Alexsa Si Peri Taman" tersebut klik disini