Rabu, 03 Juni 2020

BERKENALAN DENGAN TEKS NARASI (CERITA FANTASI)

Sila disimak video youtube di bawah ini:

        Apakah kalian pernah menonton film Jumanji, Harry Potter and Prisoner of Azkaban, The Lord of The Rings? Atau kalian pernah menonton film dari Indonesia yaitu Gundala, Ambilkan Bulan Bu? Apakah kalian masih ingat potongan kisahnya? Kisah-kisah dalam film di atas merupakan teks narasi (cerita fantasi) yang difilmkan. Nah, kalian juga dapat menulis teks narasi (cerita fantasi) yang dapat dibaca orang lain bahkan terkenal di berbagai penjuru dunia. Bahkan ceritamu suatu saat dapat di filmkan. 

        Dalam kehidupan sehari-hari kalian tentu pernah berfantasi. Tentang hal apa saja? Agar fantasi kalian tidak hilang begitu saja, maka dalam pembelajaran ini akan membahas apa itu teks narasi (cerita fantasi) secara terperinci. Selain itu, kalian perlu mengetahui apa saja unsur-unsur teks narasi (cerita fantasi), dan jenis-jenisnya. Agar kalian mampu memahami teks narasi (cerita fantasi) lebih dalam lagi, pelajarilah materi teks narasi (cerita fantasi) di bawah ini.

A. Pengertian Teks Narasi (Cerita Fantasi)

        Narasi disebut juga penceritaan atau pengisahan. Teks Narasi adalah ragam wacana yang menceritakan proses kejadian suatu peristiwa.Sasarannya memberikan gambaran yang sejalas-jelasnya kepada pembaca mengenai fase, urutan, langkah atau rangkaian terjadinya sesuatu hal. (Saddhono, 2015:180). Selaras dengan pendapat lain mengatakan teks narasi merupakan bentuk tulisan yang bertujuan menceritakan rangkaian peristiwa atau pengalaman manusia berdasarkan perkembangan karangan dan tulisan yang bersifat menyejarah dari waktu ke waktu (Semi dalam Munirah,  2015:110). Jenis teks narasi ini mementingkan urutan kronologis suatu peristiwa, kejadian dan masalah yang sejalas-jelasnya kepada pembaca.

        Cerita fantasi ini termasuk dalam genre sastra yang dikategorikan ke dalam genre cerita atau genre naratif. Cerita fantasi termasuk cerita fiksi. Nurgiyantoro (2015:2) mengatakan bahwa cerita fiksi merupakan suatu karya yang menceritakan sesuatu yang bersifat rekaan, khayalan, sesuatu yang tidak ada dan terjadi sungguh-sungguh sehingga tidak diperlu dicari kebenarannya. Cerita fantasi adalah cerita yang dibuat berdasarkan produk imajinasi seseorang seakan ada dalam kehidupan sehari-hari tetapi kenyataannya hanya dalam mimpi (Cahyani,2012:278). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa teks narasi (cerita fantasi) merupakan cerita rekaan yang terbentuk dari imajinasi-imajinasi pengarang lalu disampaikan menurut urutan waktu agar mengambarkan proses kejadian sejelas-jelasnya.


B. Unsur-Unsur Teks Narasi (Cerita Fantasi)

1. Tema

      Dalam menulis sebuah teks narasi (cerita fantasi), kalian dapat memulainya dari tema. Stanton dalam Nurgiyantoro (2015:114) mengemukakan bahwa tema adalah makna yang dikandung oleh sebuah cerita. Pendapat lain mengatakan bahwa tema adalah ide yang mendasari suatu cerita. Tema dapat kalian temukan dengan berbagai cara. Salah satunya tema yang berasal dari pengalaman pribadi atau orang lain. Tema-tema dalam  teks narasi (cerita fantasi)  pada umumnya aneh, menakjubkan bahkan tidak masuk akal. 

2.  Alur

        Alur berkaitan dengan masalah urutan penyajian cerita. Alur merupakan rangakaian cerita yang dibentuk oleh tahapan-tahapan perisrtiwa sehingga menjalin sebuah cerita yang dihadirkan oleh pelaku dalam suatu cerita (Abrams dalam Wicaksono, 2008:159). Berbeda dengan pendapat Nurgiyantoro (2015:167) alur adalah cerita yang berisi urutan kejadian, namun tiap kejadiannya itu hanya dihubungkan secara sebab akibat, peristiwa satu disebabkan atau menyebabkan terjadinya peristiwa yang lain. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa  alur merupakan urutan peristiwa yang dihubungkan oleh sebab akibat.. Urutan peristiwa itu mencakup seperti, konflik yang terjadi, lalu sampai akhirnya mencapai klimaks, dan terakhir bagaimana  cerita tersebut diselesaikan. 

        Nurgiyantoro (2015: 153-156) mengemukakan bahwa terdapat jenis plot yang ditinjau dari segi penyusunan peristiwa atau bagian-bagian yang membentuknya, yaitu:

1) Alur progresif (lurus, maju atau juga bisa disebut kronologis) jika cerita diceritakan secara runtut mulai dari tahap awal-tengah-akhir.

2) Alur sorot balik atau flashback adalah plot yang urutan ceritanya tidak dimulai dari tahap awal, melainkan dari tahap tengah atau bahkan tahap akhir, baru kemudian tahap awal cerita.

3) Alur campuran. Plot campuran terjadi bila cerita yang urutan ceritanya progresif, tetapi di dalamnya terdapat adegan sorot balik.

3.  Tokoh Penokohan

       Tokoh adalah orang yang menjadi pelaku dalam cerita (Baldic dalam Nurgiyantoro, 2015:247).  Pendapat lain dari Aminudin dalam Siswanto (2008:142) menyatakan bahwa tokoh adalah pelaku yang mengemban peristiwa dalam cerita rekaan sehingga peristiwa itu menjalin suatu cerita. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tokoh adalah orang atau pelaku dalam cerita yang mengembang terjalinya suatu cerita. Tokoh adalah salah satu unsur yang penting dalam teks narasi (cerita fantasi).

       Sudjiman dalam Siswanto (2010) membagi tokoh menjadi tiga jenis, yakni:

  1. Tokoh utama (primer) adalah pelaku yang banyak mengalami peristiwa dalam cerita.
  2. Tokoh  bawahan (sekunder) adalah pelaku yang mendukung atau membantu tokoh utama. 
  3. Tokoh tambahan (komplementer) adalah pelaku yang kemunculan dalam cerita relatif sedikit dan hanya sebagai pelengkap tokoh utama.

    Kosasih (2012:36) berpendapat bahwa penokohan merupakan cara pengarang menggambarkan dan mengembangkan karakter tokoh-tokoh dalam cerita. Penokohan adalah sifat yang dilekatkan pada diri tokoh, penggambaran atau pelukisan mengenai tokoh cerita, baik lahirnya maupun batinnya oleh seorang pengarang (Wicaksono, 2014:175). Dengan demikian dapat disimpulkan penokohan adalah penggambaran dengan jelas tentang karakter tokoh atau seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita. watak yang dimiliki tokoh terbagi menjadi tiga macam, yaitu: 1) tokoh protagonis (tokoh utama; tokoh baik), 2) tokoh antagonis (musuh tokoh protagonis; tokoh jahat) 3) tokoh tritagonis (pihak ketiga; tokoh pelerai).

4.  Latar

         Latar atau setting merupakan tempat atau waktu berlangsungnya kejadian dalam cerita (Kosasih, 2012:38). Latar dalam teks narasi (cerita fantasi) berfungsi untuk membentuk daya imajinasi dan menciptakan suasana tertentu yang seolah-olah sungguh-sungguh ada dan terjadi. Hal tersebut dapat terjadi jika latar dapat menyajikan suasana setempat, warna lokal, lengkap dengan karakteristik yang khas ke dalam cerita.

       Kosasih (2012) membedakan unsur latar menjadi tiga yaitu:

  1. Latar tempat: mengacu pada tempat berlangsungnya peristiwa-peristiwa di dalam sebuah cerita. 
  2. Latar waktu: mengacu pada waktu berlangsungnya peristiwa-peristiwa di dalam sebuah  cerita. Latar waktu yang digunakan biasanya pagi hari, siang hari, malam hari, dan waktu-waktu tertentu. 
  3. Latar sosial: mengacu pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku sosial di suatu daerah yang diceritakan dalam sebuah cerita seperti kebiasaan hidup, adat istiadat, keyakinan, cara berpikir dan besikap, dan lain-lain. 

5.  Sudut Pandang

  Sudut pandang dapat diartikan sebagai cara sebuah cerita dikisahkan. Penggambaran sudut pandang secara tidak langsung berpengaruh pada penyajian cerita, oleh karena itu sudut pandang disebut juga pusat pengisahan. Semi dalam Sri Suhita dan Rahmah Purwahida (2018: 36) menjelaskan bahwa terdapat empat jenis pusat pengisahan, yaitu:

  1. Pengarang sebagai tokoh cerita. 
  2. Pengarang sebagai tokoh sampingan. 
  3. Pengarang sebagai pengamat atau orang ketiga. 
  4. Pengarang sebagi pemain narator.

6. Amanat

        Amanat merupakan pesan yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca. Pesan tersebut dapat berupa nilai-nilai luhur yang dapat dijadikan teladan dalam kehidupan. Amanat erat hubungan dengan tema. Bentuk penyampaian amanat dalam sebuat cerita ada dua, yakni tersurat (langsung) dan tersirat (tidak langsung).  


C. Ciri Umum Teks Narasi (Cerita Fantasi)


1. Ada keajaiban/ keanehan/ kemisteriusan

        Cerita mengungkapkan hal-hal supranatural/ kemisteriusan, keghaiban yang tidak ditemui dalam dunia nyata. Cerita fantasi adalah cerita fiksi bergenre fantasi (dunia imajinatif yang diciptakan penulis). Pada cerita fantasi hal yang tidak mungkin dijadikan biasa. Tokoh dan latar diciptakan penulis tidak ada di dunia nyata atau modifikasi dunia nyata. Tema fantasi adalah magic, supernatural atau  futuristik. Magic dalam teks narasi  (cerita fantasi) yaitu penulis menggambarkan tokoh memiliki kemampuan yang diluar manusia. Sementara futuristik, bersifat atau berhubungan dengan masa depan.

2. Ide cerita terbuka

        Ide cerita terbuka terhadap daya hayal penulis, tidak dibatasi oleh realitas atau kehidupan nyata. Ide juga dapat berupa gabungan dari dunia nyata dan dunia khayalan yang diciptakan oleh pengarang. Ide cerita terkadang bersifat sederhana tapi mampu menitipkan pesan yang menarik.Tema cerita fantasi adalah magic, supernatural atau  futuristik. Contoh, pertempuran komodo dengan siluman serigala untuk mempertahankan tanah leluhurnya, petualangan di balik pohon kenari yang melemparkan tokoh ke zaman Belanda, zaman Jepang, kegelapan karena tumbukan meteor, kehidupan saling cuek dalam dunia teknologi canggih pada 100 tahun mendatang.

3. Latar lintas waktu dan ruang

            Peristiwa  yang dialami tokoh  terjadi pada dua latar yaitu   latar yang masih ada dalam kehidupan sehari-hari dan latar yang  tidak tidak ada pada kehidupan sehari-hari.  Alur dan latar cerita fantasi memiliki kekhasan. Rangkaian peristiwa cerita fantasi  menggunakan berbagai latar yang menerobos dimensi ruang dan waktu. Misalnya, tokoh Nono bisa mengalami kejadian  pada beberapa latar (latar waktu liburan di Wligi, latar zaman Belanda, dan sebagainya). Jalinan peristiwa pada cerita fantasi berpindah-pindah dari berbagai latar yang melintasi ruang dan waktu.

4. Tokoh unik

           Tokoh dalam teks narasi cerita fantasi memiliki watak dan ciri yang unik yang tidak ada dalam kehidupan sehari-hari. Tokoh memiliki kesaktian tertentu. Tokoh mengalami peristiwa misterius yang tidak terjadi pada kehidupan sehari-hari. Tokoh mengalami kejadian dalam berbagai  latar waktu. Tokoh dapat ada pada latar waktu dan tempat yang berbeda zaman (bisa waktu lampau atau waktu yang akan datang/ futuristik).             

5. Besifat fiktif

           Teks narasi cerita fantasi bersifat fiktif (bukan kejadian nyata). Cerita fantasi bisa diilhami oleh latar nyata atau objek nyata dalam kehidupan tetapi diberi fantasi. Misalnya, latar cerita dan objek cerita Ugi Agustono diilhami hasil observasi penulis terhadap komodo dan Pulau Komodo. Tokoh dan latar difantasikan dari hasil observasi objek dan tempat nyata. Demikian juga Djoko Lelono memberi fantasi pada  fakta kota Wlingi (Blitar), zaman  Belanda, Gunung Kelud.

6. Bahasa 

    Bahasa yang digunakan dalam teks narasi cerita fantasi bervariasi, ekspresif, dan menggunakan ragam percakapan (bukan bahasa formal).


D. Jenis-Jenis Teks Narasi (Cerita Fantasi)



        Jenis cerita fantasi berdasarkan kesesuaiannya dalam kehidupan nyata ada dua kategori  fantasi total dan fantasi sebagian (irisan).

1. Fantasi Total

        Kategori cerita fantasi total berisi fantasi pengarang terhadap objek/ tertentu. Pada cerita kategori ini semua yang terdapat pada cerita  semua tidak terjadi dalam dunia nyata. Misalnya, cerita fantasi  Nagata itu total fantasi penulis. Jadi nama orang, nama objek, nama kota benar-benar rekaan pengarang

2. Fantasi Sebagian (irisan)

        Cerita fantasi irisan yaitu cerita fantasi yang mengungkapkan fantasi tetapi masih menggunakan nama-nama dalam kehidupan nyata, menggunakan nama tempat yang ada dalam dunia nyata, atau peristiwa pernah terjadi pada dunia nyata.




Previous Post
Next Post

0 komentar: